Vivian tidak bisa berkutik lagi. Ibunya ingin Ia mengikuti kontes hari Kartini yang diadakan sebulan lagi. Ia nyaris menolaknya. Ia benci berpura-pura, tersenyum kepada semua orang bahwa Ia menikmati hidupnya sebagai anak perempuan. Kenyataannya bukanlah seperti itu. Menurutnya, menjadi laki-laki akan lebih menyenangkan. Cowok-cowok di sekolahnya berpakaian dan bertindak sesuka mereka tanpa ada yang mengomentari perilaku mereka.
“Ma..mama tau kan aku ngak pernah suka ikut acara kaya
gitu?” Vivian menggerutu kesal. Mamanya hanya tersenyum mendengar omelan
Vivian. Sudah beratus ratus kali Vivian mengomel tentang kontes Hari Kartini
itu, disertai dengan berbagai alasan yang mungkin akan merubah pikiran mamanya.
“Kenapa sih kamu? Sekali kali jadi anak perempuan kan
ngak masalah!” Mama balik menceramahi Vivian.Vivian hanya cemberut mendengar
perkataan mamanya.
Sebenarnya Vivian bertingkah laku seperti laki-laki
karena pada awalnya,ayahnya mengaharapkan ia menjadi anak laki-laki.Hal itu
menyebabkan Vivian merasa bahwa ia harus bertingkah laku seperti laki-laki
untuk membanggakan ayahnya. Namun karena ibunya memaksa, mau tak mau ia harus
mengikuti kontes tersebut.
Hari kontes telah tiba. Vivian mengenakan kebaya yang
disiapkan Ibunya kemarin. Ia merasa tak nyaman dengan pakaian tersebut.
Namun menggunakan Kebaya adalah
persyaratan dalam kontes. Tiba-tiba ia melihat sosok ayahnya yang tersenyum
mendekatinya. Sang ayah terlihat menyemangatinya. Membuat Vivian terharu.
Vivian melihat ayahnya yang tersenyum menjadi
tersentuh karena ia selama ini menyangka ayahnya akan lebih bangga bila ia
berlaku seperti anak laki-laki.Dan ia sangat tak menyangka bahwa ayahnya akan
lebih bangga bila ia berlaku seperti anak gadis selayaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar