Music

Kamis, 23 Mei 2013

R.A Kartini

Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April, adalah simbol semangat perjuangan wanita untuk persamaan derajat dengan pria, atau yang sering dikenal dengan kata ˜Emansipasi Wanita. Kartini merupakan pahlawan wanita Indonesia yang berjuang dengan hati untuk memajukan nilai-nilai kewanitaan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan segenap jiwa dan raganya, emansipasi wanita di Indonesia menjadi bukti betapa besar jasa beliau kepada wanita-wanita Indonesia pada zaman penjajahan. 


Bernama lengkap Raden Ajeng Kartini yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Adalah putri Bupati Jepara Raden Mas Adipati Sastrodiningrat dan cucu dari Bupati Demak, Tjondronegoro. Saat menanjak dewasa, beliau menilai wanita itu penuh dengan kehampaan, ketiadaan dan kegelapan untuk meraih masa depan. Wanita hanya dianggap sebagai pelayan kaum laki-laki. Sekolah hanya sebatas tingkat Sekolah Rakyat (SR) atau sekarang disebut Sekolah Dasar (SD), setelah itu dipingit untuk menunggu dinikahkan oleh orang tuanya.

Kartini menginginkan budaya Patriarki (sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas pertama dalam organisasi sosial) yang telah menjadi pohon besar di tengah-tengah masyarakat Jawa itu tumbang. Kartini ingin posisi perempuan sejajar dengan laki-laki baik dalam hak dan kewajiban. Kartini juga mengajarkan kaumnya agar dapat mandiri, berdiri sejajar dengan kaum Pria.

Tekad Kartini untuk memajukan wanita Indonesia kian besar. Beliau sadar, hanya dengan pendidikanlah wanita bisa maju dan setara dengan kaum pria. Kartini yang tidak pantang menyerah demi cita-cita mulianya, mulai mendirikan sekolah di tempat kelahirannya yaitu di Jepara. Beliau mengajarkan menjahit, memasak dan sebagainya. 

Demi memajukan sekolah yang didirikannya, beliau berencana mengikuti sekolah guru di Belanda agar menjadi pendidik yang berkualitas. Beasiswa pun berhasil diraihnya. Namun rintangan dan hambatan yang berat beliau temui saat orang tuanya melarang untuk sekolah ke negeri Belanda dan segera dinikahkan oleh Bupati Rembang Raden Adipati Joyodiningrat.

Pernikahan tidak membuatnya patah semangat, sekalipun harus menuruti perintah suaminya. Beliau dapat terus berlari dalam cita-cita agungnya itu. Dengan belajar mengikuti perkembangan zaman, beliau mendirikan sekolah lagi di Rembang. Apa yang dilakukannya menjadi panutan wanita-wanita Indonesia lainnya yang ikut mendirikan sekolah khusus wanita. Sekolah wanita yang dinamakan Sekolah Kartini tersebut, di tempatkan di daerah-daerah seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku dari kumpulan surat-surat yang ditulis Kartini semasa hidupnya. Buku tersebut berisikan tentang semangat kewanitaan yang menjadi motivasi jiwa-jiwa yang dulu dianggap lemah. Namun, setelah beliau wafat pada 17 September 1904 di usia yang masih sangat muda yaitu 25 tahun, dekade emansipasi wanita merajalela hingga pergerakan kemajuannya terasa sampai sekarang. 

Jasa besar Kartini menjadikan dirinya dianugrahi gelar oleh Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia dan menetapkan hari kelahirannya sebagai Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April. Hari itu menjadi hari besar yang selalu diperingati oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya.

Hari Kartini diperingati sebagian besar oleh masyarakat Indonesia terutama di sekolah-sekolah dengan menampilkan pakaian-pakaian adat terutama bagi pelajar sekolah dasar. Peringatan itu tidak lain agar pelajar mengetahui adanya Hari Kartini yang setiap tahun diadakan dengan semangat perjuangan seorang wanita membangun persamaan kedudukan. Pelajar wanita dan pria menggunakan pakaian adat dengan sopan, santun dan rapih, menandakan tidak ada diskriminatif antara keduanya.

Kini, masa ini sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa wanita tidak lagi menjadi lemah yang hanya bisa mengurusi rumah dan anak-anak saja. Di ujung Sabang sampai sudut Merauke, semangat yang diajarkan oleh Kartini sudah mengakar, dan tidak perlu ada lagi perbedaan derajat antara wanita dan pria. Masyarakat pribumi sudah barang tentu kenal dengan pahlawan wanita Indonesia yang bernama Kartini. Penghinaan dan perendah-dirian yang dulu ada, kini telah lenyap ditelan perkasanya kelembutan wanita. Kekhawatiran dan ketakutan kaum lemah yang hanya menjadi pesuruh rumah tangga, kini telah hadir dan berperan serta dalam membangun negeri. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar